LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
PENGAMATAN MUSUH ALAMI HAMA
Oleh Kelompok 7:

1. Nurul Afriyanti Utami D A34080067
2. Hida Noor Anugrawati A34080073
3. Busyairi A34080083
4. Riska Noviana A34080088
5. Zakarias Pikindu A34080099

Dosen:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Populasi serangga hama di alam dapat ditekan oleh musuh alami baik dari kelompok predator, parasitoid, maupun patogen. Diperkirakan sekitar 25% spesies serangga yang ada di alam hidup sebagai predator atau parasit. Predator adalah serangga yang dalam hidupnya membunuh dan memakan sejumlah mangsa. Parasitoid adalah serangga yang hidup pada inang dan akhirnya mematikan inangnya. Parasitoid dapat memarasit dari dalam inang yang disebut endoparasitoid atau dari luar inang disebut ektoparasitoid. Parasit adalah seragga yang memarasit inang namun tidak mematikan inangnya.
Serangga parasitoid yang berperan sebagai parasitoid adalah dalam fase larva saja. Imago parasitoid hidup bebas dapat terbang dan memakan nektar. Parasit bersifat parasitik pada fase pradewasa dan hidup bebas tidak terikat dengan inangnya ketika sudah dewasa. Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga meskipun instar dewasa yang paling jarang terparasit.
Ada spesies parasitoid yang hanya digunakan oleh satu parasitoid untuk dapat melengkapi perkembangannya sampai fase dewasa pada satu inang. Parasitoid ini disebut parasitoid soliter, sedangkan parasitoid gregarius adalah jenis parasitoid yang lebih dari satu individu dapat hidup bersama-sama dalm tubuh satu inang. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh iang dapat banyak sekali. Ada enam ordo dengan 86 famili serangga yang tercatat sebagai parasitoid yaitu Coleoptera, Diptera, Hymenoptera, Lepidoptera, Neuroptera, dan Sterpsiptera. ( Kasumbogo 2001).

I.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum pengamatan musuh alami hama adalah untuk mengamati parasitoid yang hidup pada beberapa inang di lapang. Selain itu untuk mengetahui cara mengoleksi parasitoid denagn mengoleksi inang dan memeliharanya di laboratorium.

BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1 Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum penagamatan musuh alami hama adalah larva kutu daun pada cempaka kuning, wadah/toples plastik berkasa untuk pemeliharaan, tabung film dengan alkohol, aspirator, kapas untuk tanaman tetap segar, dan label untuk pemberian nama.

2.2 Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum pengamatan musuh alami ini adalah, mengambil tanaman inang yang terdapat serangga inang pradewasanya. Selanjutnya tanaman dimasukkan ke dalam wadah/toples plastik, adapun jumlah dari tanaman inang tersebut (bunga) yaitu 10-15. Di bagian bawah batang diberikan kapas basah agar bunga tetap segar. Setelah itu wadah/ toples diberikan label untuk penamaan dan tanaman inang tersebut dipelihara hingga imago hama atau parasitoid keluar. Dan pengamatan dilakukan setiap hari yang meliputi; kapan imago hama atau parasitoid keluar, berapa jumlah imago hama atau parasitoid yang keluar tersebut. Lalu yang terakhir adalah tingkat parasitisasi parasitoid dihitung dengan rumus:

Jumlah Inang Terparasit
Tingkat Parasitisasi = X 100 %
Jumlah Inang Yang diamati

BAB III
Hasil Dan Pembahasan

3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan pada bunga kuning
No. Stadium/a Inang Jumlah Awal Jumlah Terparasit Tingkat Terparasitasi Parasitoid
1. Nimfa
Kutu Daun (Aphididae ; Hemiptera) 50 15 30 % Hymenoptera: Encyrtidae

2. Imago
Kutu Daun (Aphididae ; Hemiptera) 5 0 0 % _

Perhitungan
1. Larva Kutu Daun pada Cempaka Kuning
∑ awal = 50 larva
Jumlah Inang Terparasit
Tingkat Parasitisasi = X 100 %
Jumlah Inang Yang diamati
15
= X 100% = 30 %
50

2. Imago Kutu Daun Cempaka Kuning
∑ awal = 5 imago
Jumlah Inang Terparasit
Tingkat Parasitisasi = X 100 %
Jumlah Inang Yang diamati
0
= X 100% = 0 %
5

3.2 Pembahasan
Kutu daun termasuk dalam famili Aphididae ordo Hemiptera. serangga ini bertubuh lunak, berukuran 4-8 mm. Kelompok Aphids biasanya berkoloni di bawah permukaan daun atau sela-sela daun, hama ini mengekskresikan embun madu, adanya embun madu yang dikeluarkan kutu daun dapat dilihat dengan terdapatnya semut atau embun jelaga yang berwarna hitam. Munculnya embun jelaga ini menyebabkan permukaan daun tertutupi sehingga akan menghambat proses fotosintesis. Aphids menyerang tanaman Cabe, Paprika, Timun, Semangka, Melon, Kubis dan Kailan. Hama ini mengisap cairan daun, sehingga daun tanaman menggulung, sedangkan pucuk tanaman menjadi keriting. Aphids juga merupakan vektor penyakit virus. Pada fase nimfa dan imago dapat mengisap cairan pada dasar bunga, sehingga mengakibatkan bentuk bunga rusak.
Perkembangan kutu daun secara partenogenetik dan vivipar. Di daerah tropis umumnya populasi kutu daun dengan cepat, populasi kutu daun sangat tinggi pada awal musim kering, sedangkan pada periode kering yang panjang dan hujan lebat populasinya sangat menurun. Kebanyakan telurnya hidup di musim dingin, kemudian menghasilkan individu-individu yang tidak bersayap dan bersayap. Pada jenis bentuk-bentuk yang bersayap ini pndah ke tumbuhan inang yang berbeda dan proses produksi berlanjut. Di daerah tropis untuk menyelesaiakan satu siklus hidupnya diperlukan waktu rata-rata 8,2-11, 4 hari.
Pada percobaan pengamatan musuh alami hama yang kami lakukan, kami mengamati nimfa dan imago pada kutu daun di bunga cempaka kuning. Pada awal nimfa kutu daun berjumlah 50 nimfa, setelah diamati jumlah yang terparasit sekitar 15 parasitoid sehingga tingkat parasitisasinya 30 %. Sedangkan pada imago kutu daun memiliki jumlah awal 5 namun tidak ada ada yang terparasit oleh parasitoid sehingga tingkat persentase parasitisasinya 0 %.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan ± 3 minggu ini, kelompok parasitoid yang ada berasal dari ordo kutu-kutuan adalah dari ordo: Hymenoptera, famili : Encyrtidae. Encyrtidae adalah satu kelompok yang terbesar dan tersebar luas, dengan kira-kira 345 jenis Amerika Utara yang telah dikenal. Mereka biasanya memiliki panjang tubuh 1-2 mm dan dapat dibedakan oleh mesopleura yang cembung secara lebar. Encyrtidae mempunyai koksa-koksa depan dan tengah saling berdekatan, mesonotum cembung dan tidak mempunyai notauli. Dua genera utama hunterellus dan Ixodiphagus adalah menarik perhatian , karena mereka memarasit tahapan nimfa. Beberapa Encyrtidae adalah hiperparasit. Poliembrioni terdapat pada sejumlah jenis, dengan 10 sampai lebih dari 1000 individu muda berkembang dari sebuah teluar tunggal.
Siklus hidupnya lebih pendek dari pada inangnya, mampu berkembang lebih cepat dibandingkan inangnya. Memiliki rasio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memilki kemampuan menyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga-serangga itu secara efektif mampu mencari inang atau mangsanya.
Kelimpahan suatu populasi serangga ini pada suatu habitat ditentukan oleh adanya keanekaragaman dan kelimpahan sumber pakan maupun sumber daya lain yang tersedia pada habitat tersebut. Serangga menanggapi sumber daya tersebut dengan cara yang kompleks. Keadaan pakan yang berfluktuasi secara musiman akan menjadi faktor pembatas bagi keberadaan populasi serangga ini di suatu tempat, karena adanya kompetisi antar individu, Iklim, curah hujan, dan faktor makanan merupakan faktor yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup serangga parasitoid serta mempunyai pengaruh besar pada laju perkembangan populasi serangga tersebut.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa parasitoid pada kutu daun adalah Famili Encyrtidae dari Ordo Hymenoptera. Serangga ini kebanyakan menyerang pada fase nimfa, sedangkan imago sangat jarang sekali terserang. Memiliki siklus hidup yang lebih pendek dari pada inangnya, mampu berkembang lebih cepat dibandingkan inangnya. Memiliki rasio jantan dan betina yang besar, mempunyai keperidian dan kecepatan hidup yang tinggi serta memilki kemampuan menyebar yang cepat pada suatu daerah dan serangga-serangga itu secara efektif mampu mencari inangnya. Adapun faktor yang mendukung perkembangannya adalah: Iklim, curah hujan, dan makanan. Faktor makanan merupakan faktor yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup serangga parasitoid serta mempunyai pengaruh besar pada laju perkembangan populasi serangga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Untung, Kasumbogo. 2001. Pengantar Pengetahuan Hama Terpadu. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Donald J. Borror. 1982. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi keenam. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

LAMPIRAN
Tabel. Pengamatan semua kelompok tentang musuh alami (parasitoid
Kelompok Tanaman Inang Tingkat Parasitasi Parasitoid yang keluar
1 Jambu bol Pagodiella hekmeyeri 18% • Coccinellidae
• Ichneumonidae
• Laba-laba
• Apantales sp.(Hymenoptera;Braconidae)
• Exorista guadrimakulata (Diptera;tachinidae)
• Formicidae (Hymenoptera)
2 Mahkota dewa Psychidae 13,3% • Ichneumonidae
3 Tanaman Daun Kuning Nymphalidae 20% • Chalcididae (7)
• Brachonidae (10)
4 Jambu biji Atellabidae 13,1% • Thipiidae
5 Pisang Erionota thrax 25% • Chalcididae
• Brachonidae
• Pengurai Dermaptera
6 Belimbing Bractosea sp. 10% • Brachonidae
• Tipulidae
• Tephritidae
7 Bunga kuning Aphididae ; Hemiptera 30% Hymenoptera: Encyrtidae

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMELIHARAAN SERANGGA

Oleh Kelompok 7:

1. Nurul Afriyanti Utami D A34080067
2. Hida Noor Anugrawati A34080073
3. Busyairi A34080083
4. Riska Noviana A34080088
5. Zakarias Pikindu A34080099

Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang memenfaatkan sektor pertanian sebagai sumber gizinya. Namun, masalah yang kini sedang dihadapi adalah lahan-lahan pertanian yang banyak terserang hama dan penyakit.
Beberapa jenis tanaman yang sering terserang adalah polong-polongan dan kubis. Polong-polongan seperti kedelai biasanya diserang oleh sejenis kepik yakni, Riptortus linearis. Sedangkan pada kubis adalah Spodoptera litura. Kerugian yang dialami akibat serangakan hama tersebut cukup besar.
Sebagai mahasiswa pertanian, menjadi sebuah kewajiban untuk mengatasi hal ini. Oleh karena itu dilakukan pemeliharaan kedua serangga tersebut untuk mengetahui morfologi dan siklus hidupnya Pemeliharaan dimulai dari stadia awal hingga imago untuk mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat dalam upaya pengendaliannya.

1.2 Tujuan
Pemeliharan ini bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan perkembangan atau siklus hidup dari Riptortus linearis dan Spodoptera litura serta mengetahui perbedaan morfologi kedua serangga tersebut.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pemeliharaan serangga ini adalah cawan petri, gelas plastik berpenutup, label, gunting, kuas, kertas buram, kapas, ranting kayu, mikroskop, thermometer, alat pengukur kelembapan, dan meja penyimpanan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah telur R. linearis dan S. litura, madu, kacang panjang, daun talas atau daun kangkung, larutan pengusir semut atau serangga lain, dan serbuk gergaji.

2.2 Metode
Telur R. linearis dan S. litura diperoleh dari imago dewasa yang telah disediakan di laboratorium. Setiap gelas plastik berpenutup diletakkan satu telur R. linearis yang sebelumnya telah diberi alas dengan kertas buram yang dibasahi dengan air agar lembab dan kacang panjang 4-5 cm sebagai makanannya. Sedangkan telur S. litura diletakkan pada cawan petri yang telah diberi alas dan daunt alas atau kankung sebagai sumber makanannya. Simpan gelas dan cawan pada meja penyimpanan yang keempat kakinya dicelupkan pada larutan telah disediakan agar tidak dikerubungi semut atau serangga lain, dilengkapi thermometer dan alat pengukur kelembapan.
Perkembangan serangga diamati setiap hari, dicatat perubahan-perubahan yang terjadi serta suhu dan kelembapannya. Tidak lupa member makan dan membersihkan tempatnya jika sudah kotor. Untuk S. litura yang telah menjadi pupa diletakkan pada gelas berpenutup yang lebih tinggi yang telah diberi serbuk gergaji dan diletakkan ranting kayu yang ujungnya diberi kapas yang telah diolesi madu sebagai sumber makanannya.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pekembangan R. linearis
Fase Perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata perkembangan (hari) Rata-rata suhu (˚C) Rata-rata kelembapan (%)
1 2 3 4 5 6 7
Telur 8 8 8 8 8 8 7 8 26,83 77,48
Nimfa- Instar
I 3 3 4 4 9 2 3 4
II 4 4 3 3 7 3 4 4
III 3 4 3 4 5 3 4 3
IV 3 4 5 4 5 5 5 4
V 3 4 4 4 6 4 4 4
Imago 5 6 7 4 5 7 5 5
Siklus Hidup 29 33 34 31 39 32 32 32

Tabel 2. Pekembangan S. litura
Fase Perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata perkembangan (hari) Rata-rata suhu (˚C) Rata-rata kelembapan (%)
1 2 3 4 5 6 7
Telur 3 3 4 4 3 3 3 3 26,83 77,48
Larva- Instar I 4 3 3 3 3 4 3 3
II 4 3 3 3 4 3 4 3
III 5 4 4 4 4 5 4 4
IV 7 4 4 4 5 4 4 4
Pupa 11 7 7 7 10 4 7 7
Imago 3 8 5 6 8 9 5 6
Siklus Hidup 37 32 30 31 37 32 30 32

3.2 Pembahasan
Siklus hidup adalah waktu yang diperlukan mulai dari peletakkan telur sampai telur tersebut menetas, berkembang menjadi imago, dan meletakkan telur pertama. Siklus hidup merupakan jumlah dari stadium telur, stadium nimfa atau larva, pupa bila ada, dan masa praoviposisi.
Siklus hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar, dan stadium imago. Telur R. linearis berbentuk bulat dengan bagian tengah agak cekung, rata-rata berdiameter 1,20 mm. (Tengkano dan Dunuyaali.1976)
Telur berwarna biru keabuan kemudian berubah menjadi cokelat suram. Pada stadium nimfa, R. linearis berganti kulit (moulting) lima kali. Setelah 8 hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar I selama 3 hari, nimfa instar II selama 4 hari, instar III selama 3 hari dan nimfa instar IV dan V selama 4 hari.. Setiap berganti kulit terlihat perbedaan bentuk, warna, dan ukuran. Rata-rata panjang tubuh nimfa instar I adalah 2,60 mm, instar II 4,20 mm,instar III 6 mm, instar IV 7 mm, dan instar V9,90 mm. (Tengkano dan Dunuyaali.1976)
Instar I ditandai dengan munculnya nimfa kecil seperti semut berwarna coklat muda. Instar II ditandai dengan pergantian kulit dengan adanya antenna dan pergerakkannya sangat lincah disbanding pada instar I. Instar III ditandai dengan bertambahnya ukuran, antena bertambah panjang, dan abdomen membesar. Instar IV ditandai dengan bertambahnya ukuran, antenna berambah panjang, dan abdomen membesar, begitu pula pada instar V hanya saja warnanya menjadi coklat tua. Pergantian dari setiap instar yang sebelumnya ke instar selanjutnya dapat diketahui secara jelas karena kulit yang lama yang ditanggalkan terdapat di dalam tempat pemeliharaan, hal ini disebut eksuvium. Namun, serangga ini tidak ada sebelum meletakkan telur pertamanya. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, yakni karena serangga tidak diberi makan atau melarikan diri (kabur).
Pada S. litura stadium ulat terdiri dari 4 instar. Instar pertama panjangnya sekitar 1,2 – 1,5 mm, instar kedua sampai instar terakhir antara 1,5 – 19 mm. Setelah instar terakhir ulat merayap atau menjatuhkan diri ke tanah untuk berkepompong. (Anonim. 2007)
Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklat-coklatan Stadium telur pada serangga ini adalah selama 3 hari kemudian dilanjutkan dengan Larva Instar I yang ditandai dengan tubuh larva yang berwarna kuning dengan terdapat bulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,2-0,3 mm, lama instar I adalah 3 hari. Dilanjutkan dengan larva Instar II yang ditandai dengan tubuh berwarna hijau dengan panjang 3,75-10,00 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi dan pada ruas abdomen pertama terdapat garis hitam meningkat pada bagian dorsal terdapat garis putih memanjang dari toraks hingga ujung abdomen, pada toraks terdapat empat buah titik yang berbaris dua-dua, instar II ini berlangsung selama 3 hari. Larva instar ketiga memiliki panjang tubuh 8,0 – 15,0 mm dengan lebar kepala 0,5 – 0,6 mm. Pada bagian kiri dan kanan abdomen terdapat garis zig-zag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang tubuh, instar III ini berlangsung selama 4 hari. Mulai instar keempat warna bervariasi yaitu hitam, hijau, keputihan, hijau kekuningan atau hijau keunguan, panjang tubuh 13-20 mm, instar IV berlangsung selama 4 hari.
Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Imago berupa ngengat dengan warna hitam kecoklatan. Pada sayap depan ditemukan spot-spot berwarna hitam dengan strip-strip putih dan kuning. Sayap belakang biasanya berwarna putih. (Ardiansyah, 2007).
Pupa terjadi selama 7 hari dan imago selama 6 hari. Sama halnya denga R. linearis sebelum meletakkan telur pertamanya, serangga ini tidak ada. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, yakni karena serangga tidak diberi makan atau melarikan diri (kabur). Namun, berbeda dengan R. linearis yang pergantian kulit ditandai dengan adanya kulit yang ditanggalkan, S. litura tidak demikian melainkan memakannya, sehingga harus melihat di bawah mikroskop untuk melihat perubahannya.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum ini, dapat diketahui bahwa siklus hidup Riptortus linearis terdiri dari 3 fase, yaitu telur, nimfa (instar I, instar II, instar III, instar IV, instar V), dan imago. Siklus hidup rata-rata Riptortus linearis yaitu 32 hari. Sedangkan siklus hidup Spodoptera litura terdiri dari 4 fase, yaitu telur, larva (instar 1, instar 2, instar 3, dan instar 4), pupa, dan imago. Siklus hidup rata-rata Spodoptera litura yaitu 32 hari. Masing-masing perubahasan fase pada Riptortus linearis dan Spodoptera litura menunjukkan bentuk morfologi yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2007. Hasil Identifikasi Primer Hama Utama pada Tanaman Sayuran.
Sadish Balasubramanian.blogsome
Ardiansyah. 2007. Hama Ulat Grayak (Spodoptera Litura) di Tanaman Ubi
www.biologi.ugm.ac.id/index.php

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
GEJALA SERANGAN HAMA PADA ENAM KOMODITI

Oleh:
Nurul Afriyanti Utami D
A34080067

Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Bogor merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Dalam menjalankan usaha pertanian tentu saja tidak semulus yang dibayangkan selalu saja ada kendalanya, misalnya saja adanya gejala serangan hama yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman, bahkan bisa menimbulkan kegagalan panen yang tentu saja akan merugikan petani.

1. 2 Tujuan
Praktikum lapang ini bertujuan untuk mengetahui gejala serangan hama pada enam komoditi pertanian, yakni padi, caisin, daun bawang, terong, oyong, dan jambu biji di daerah Cinangneng, Bogor.

BAB II
BAHAN DAN METODE

2. 1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini tidak terlalu sulit, hanya cukup membawa alat tulis, kamera, dan jaring jika ingin menangkap serangga. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah lahan pertanaman padi, caisin, daun bawang, terong, oyong, dan jambu biji.

2. 2 Metode
Gejala serangan hama di setiap lahan pertanaman diamati, dicatat serta difoto gejala dan penyebabnya.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3. 1 Hasil Pengamatan
No Nama Tanaman Penyebab Gejala Gambar
1. Padi Fase Vegetatif
Belalang Gerigitan
Penggerek batang padi putih Belum terlihat gejalanya

Coccinellidae Sebagai predator
Keong mas+telur Belum terlihat gejalanya
Fase Generatif
Walang sangit Polong hampa

Belalang gerigitan
Wereng coklat. hopperburn
2. Caisin Kutu anjing Shoothole
Spodoptera litura Gerigitan
Belalang Gerigitan
Liriomyzae Korokan
3. Daun bawang Liriomyzae Korokan
Belalang Gerigitan

Kepinding tanah Rusak di pangkal bawang Tidak menemukan gambar
4. Oyong Liriomyzae

Korokan
Aulacophora Terdapat lubang-lubang di daun
Thrips Tulang daun kering
5. Terong Kutu daun Tidak terlihat gejala

Liriomyzae Korokan

Empoasca Nekrosis
6. Jambu biji Belalang Gerigitan
Pyrallidae Penjalin daun, daun pucuk digabung
Bactrocera Tidak terlihat gejala karena berada dalam buah

Tidak terlihat
Reduviidae Tidak terlihat gejala

4. 2 Pembahasan
Pada praktikum lapang kali ini, diamati gejala-gejala serangan hama pada enam komoditi tanaman yakni padi, caisin, terong, oyong, daun bawang, dan jambu biji.
Pada padi serangga yang menyerang pada faser vegetatif adalah belalang yang ditandai dengan gejala gerigitan, penggerek padi putih, coccinellidae sebagai predator, dan keong mas. Sedangkan pada fase generatif terdapat belalang yang ditandai dengan gejala gerigitan, walang sangit dengan gejala polong hampa, dan wereng coklat dengan gejala hopperburn. Berdasarkan literatur serangga-serangga yang menyerang adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon), ulat grayak (Spodoptera mauritia, S. Litura, S. Exigua, S. Exempta), pengerek batang padi kuning (Scirpopaga incertulas), pengerek batang padi merah jambu (Sesamia inferen), pengerek batang padi bergaris ( Chilo supressalis), pengerek batang padi berkepala hitam (Chilo polychrysus), penggerek batang padi mata bertungkai (Diopsis macropthalma). Pengendalian yang tepat untuk mengatasi serangan hama padi adalah dengan menggunakan bibit padi yang tahan terhadap serangan hama. Selain itu dengan menggunakan musuh alami, yakni lalat bibit (Atherigona exigua, A. Oryzae), Nematoda, Anjing tanah (Gryllotalpa hirsuta atau Gryllotalpa africana), uret (Exopholis hypoleuca, Leucopholis rorida, Phyllophaga helleri), kutu akar padi (Tetraneura nigriabdominalis), ganjur (Orseolia oryzae), ulat Mythimna separate ,dan kepik (Nezara viridula). (Anonim. 2010)
Pada Caisin gejala yang ditimbulkan adalah shoothole oleh kutu anjing, gerigitan oleh S. litura dan belalang, serta korokan oleh Liriomyzae. Pengendalian dilakukan dengan memilih tanaman yang sehat dan mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat.
Pada daun bawang gejala serangan yang ditimbulkan adalah korokan yang disebabakan oleh Liriomyzae, gerigitan oleh belalang, dan rusak pangkal bawang oleh kepinding tanah. Pengendalian yang dilakukan sama halnya pada caisin, ytakni memilih tanaman yang tahan dan pengaturan jarak tanam.
Pada oyong gejala serangan yang ditimbulkan adalah korokan oleh Liriomyzae, terdapat lubang-lubang di daun oleh Aulacophora, dan tulang daun kering oleh Thrips. petani memberitahukan bahwa pengendalian dilakukan dengan pemberian pestisida+obat buah pada saat usia tanaman lima belas hari.
Pada terong gejala yang ditimbulkan adalah korokan oleh Liriomyzae, nekrosis oleh Empoasca, dan terdapat kutu daun namun tidak tampak adanya gejala. Berdasarkan literatur hama yang sering menyerang selain kutu daun adalah tungau Berdasarkan literatur pengendalaian terhadap tungau dilakukan dengan cara menggunakan larutan Kalthene 0,2 %, Dimetoate (Rogor, Roxixon) 0,1 % atau larutan Sumithion 1:1.000 (18 cc dalam 15 liter air). Sedangkan terhadap kutu daun adalah dengan Basudin 40 WP dan Bayrusi125 EC. (Plantus. 2008)
Pada jambu biji gejala serangan yang terlihat adalah gerigitan oleh belalang, daun pucuk yang tergabung menjadi satu oleh Pyrallidae, terdapat Bactrocera dan Reduviidae namun keduanya tidak menimbulkan gejala. Berdasarkan literatur serangga yang menyerang jambu biji ndiantaranya adalah ulat daun (Trabala pallida), ulat keket (Ploneta diducta), ulat putih, ulat penggerek batang (Indrabela sp.), dan ulat jengkal (Berta chrysolineate). Pengendalian ulat daun dan ulat keket dengan cara dengan menggunakan nogos. Sedangkan pada ulat putih, ulat penggerek batang, dan ulat jengkal dengan dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak 2 kali seminggu hinggasatu bulan sebelum panen penyemprotan dihentikan. (Anonim. 2010)

BAB IV
PENUTUP

5. 1 Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktikum lapang ini, dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala serangan sangat beragam pada setiap tanaman. Serangga yang dominan adalah belalang dengan gejala gerigitan dan Liriomyzae dengan korokan sebagai gejala yang ditimbulkannya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. www.scribd.com/doc/8735556/Jambu-Biji. [7 Mei 2010]
Plantus. 2008. Tanaman terung. iptek.net.id. [7 Mei 1010]